Sabtu, 21 Juni 2014


PERENCANAAN TAMBANG

1.1   Pengertian perencanaan
Perencanaan tambang merupakan suatu tahap penting dalam studi kelayakan dan rencana operasi penambangan. Perencanaan suatu tambang terbuka yang modern memerlukan model komputer dari sumberdaya yang akan ditambang, baik berupa block model untuk tambang bijih atau kuari, maupun gridded seam model untuk endapan tabular seperti batubara. Dua aspek penting dalam pekerjaan perencanaan tambang adalah perancangan pit atau penentuan batas akhir penambangan, serta pentahapan dan penjadwalan produksi hingga ke perencanaan tahunan dan bulanan.
Masukan yang diperlukan dalam perancangan limit adalah aspek teknoekonomik seperti kemiringan lereng tunggal dan lereng keseluruhan, ongkos-ongkos penambangan, pengolahan, pemurnian G&A ( overhead ), faktor-faktor perolehan (recovery) serta harga komoditas. Keluaran yang dihasilkan adalah jumlah cadangan serta distribusi ton dan kadarnya yang harus direncanakan tingkat produksi serta tahap-tahap penambangannya. Tingkat produksi ore dan waste yang direncanakan akan menentukan jumlah peralatan dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Tingkat produksi, pentahapan penambangan (pushback ) dan penjadwalan produksi yang optimum ditunjukkan untuk memaksimalkan beberapa criteria finansial seperti net present value.
Buku ini bertujuan untuk memberikan tambahan wawasan kepada para insinyur perencana tambang, yang dititikberatkan pada pemahaman aspek-aspek perancangan pit dan waste dump, perencanaan produksi ore dan waste, aspek geoteknik serta lingkungan. Para insinyur perencana tambang diharapkan akan lebih memahami pula aspek analisis finansial, yang pada akhirnya menentukan tingkat keuntungan (profitability) dari suatu usaha pertambangan.

1.2   Tahapan perencanaan
Banyak definisi tentang perencanaan dan tahapannya. Dalam buku ini tahapan perencanaan dibagi menjadi tiga tahapan (Lee, 1984 dan Taylor, 1977):
a.       Studi Konseptual
Studi pada tahap pekerjaan awal ini mempresentasikan suatu transformasi dari suatu ide proyek ke dalam usulan investasi yang luaas dengan menggunakan metode-metode perbandingan dari definisi ruang lingkup dan teknik-teknik estimasi, biaya modal dan biaya operasi biasanya didekati dengan perkiraan nisbah yang menggunakan data historik.
Studi ini menekankan pada aspek investasi yang utama dari usulan penambangan yang memungkinkan. Persiapan studi ini pada umumnya adalah pekerjaan dari satu atau dua insinyur. Hasil dari studi ini dilaporkan sebagai evaluasi awal. Studi ini sering juga disebut order of magnitudes studies atau scoping studies. Pada umumnya berdasarkan data sementara (tak lengkap) dan keabsahannya masih diragukan. Hasilnya biasanya meninjau kemungkinan diteruskannya proyek ini. Tujuan lainnya adalah menentukan topik yang harus dievaluasi secara mendalam pada studi yang lebih rinci di masa yang akan datang.

b.       Pra Studi Kelayakan
Studi ini adalah suatu pekerjaan ditingkat menengah (intermediate) dan secara normal tidak untuk mengambil keputusan. Studi ini mempunyai obyektivitas di dalam penentuan apakah konsep proyek tersebut menjustifikasi suatu analisis detail oleh suatu studi kelayakan (apakah studi kelayakan diperlukan) dan apakah setiap aspek proyek adalah kritis dan memerlukan suatu investigasi yang mendalam melalui suatu studi pendukung.
Studi ini harus dipandang sebagai suatu tahap menengah antara studi konseptual yang tidak mahal dan suatu studi kelayakan yang relatif mahal. Beberapa dari studi ini dibuat oleh suatu tim (terdiri dari 2 dan 3 orang). Kedua atau ketiga orang ini mempunyai akses dalam berbagai bidang, selain dapat berupa usaha dari multi group. Data yang digunakan lebih lengkap dan kualitasnya lebih baik. Beberapa pekerjaan yang paling tidak telah dilakukan untuk semua aspek penting dari proyek seperti pengujian metalurgi bijihm geoteknik, lingklungan, dan sebagainya.
Bagi perusahaan tambang besar, studi pra-kelayakan ini cenderung masih dianggap sebagai dokumen intern, namun bagi perusahaan yang lebih kecil sering menggunakan dokumen ini untuk mencari dana di pasar modal untuk membiayai studi-studi selanjutnya (ingat kasus Bre-X/Busang).

c.       Studi Kelayakan
Sering pula disebut sebagai bankable feasibility study. Hasilnya merupakan suatu bankable document yang hampir selalu ditunjukkan untuk mencari modal untuk membiayai proyek tersebut. Dokumen yang dihasilkan ini biasanya disebarluaskan pula keluar perusahaan. Semua aspek utama harus dibahas dalam tahap ini. Hampir semua aspek tambahan harus dibahas pula.

1.3   Biaya perencanaan
Biaya perencanaan (Lee, 1984) bervariasi bergantung kepada ukuran dan faktor alamiah proyek, tipe dari studi yang dilakukan, jumlah alternatif yang harus diteliti dan sejumlah faktor lain. Biaya perencanaan dinyatakan dalam persamaan berikut:
Biaya   = f (ukuran dan sifat dari proyek, jenis studi, jumlah alternatif yang diinvestasigasi, dan lain-lain).
Dalam rangka menghitung biaya atau bagian teknik dari studi tidak termasuk seperti ongkos pemilikan seperti ongkos pengeboran eksplorasi, uji metalurgi, lingkungan dan studi hukum, atau studi pendukung lainnya, biasanya dinyatakan sebagai presentase dari biaya modal dari proyek:
                        Studi konseptual         = 0,1 – 0,3% dari biaya total
            Studi pra kelayakan    = 0,2 – 0,8% dari  biaya total
                        Studi kelayakan          = 0,5 – 1,5% dari biaya total
Akurasi estimasi dari biaya operasi meningkat ketika proyek meningkat dari studi konseptual ke pra kelayakan dan tahap kelayakan. Pada umumnya faktor kesalahan diperkirakan sebagai berikut:
                        Faktor kesalahan dari studi konseptual +/- 30% dari biaya total
                        Faktor kesalahan dari pra studi kelayakan +/- 20% dari biaya total
Faktor kesalahan dari studi kelayakan +/- 10% dari biaya total

1.4  Checklist data awal yang diperlukan

            Data awal yang diperlukan untuk perencanaan adalah:
a.       Topografi
Peta topografi untuk perencanaan berskala 1:500 atau   1:1.000
b.      Kondisi iklim (climate condition)
1)                                                            Ketinggian
2)                                                            Temperatur
c.       Presipitasi (untuk penirisan): rata-rata presipitasi tahunan, rata-rata curah hujan bulanan, rata-rataa run off (keadaan normal dan banjir), angin, kelembaban, awan
d.      Air: diperoleh dari mata air, sungai, danau, bor
e.       Struktur Geologi: dalam daerah tambang, di sekeliling daerah tambang.
f.       Air tambang: kedalaman, konduktivitas, metode penirisan
g.      Kondisi permukaan: vegetasi: tipe, metode pembabatan, biaya; danau, endapan deposit, pohon-pohon besar
h.      Tipe/jenis batuan (bijih, overburden): sampling, fragmentasi: hardness, derajat pelapukan, bidang-bidang diskontinu, kecocokan untuk jalan.
i.        Lokasi untuk konsentrator
j.        Lokasi tambang, haul: up hill, down hill
k.      Lokasi preparasi (cut, fill)
l.        Talling disposal
m.    Fasilitas pemeliharaan
n.      Tailing pond
o.      Lokasi pipa: pond overflow
p.      Jalan: informasi jalan-jalan yang ada: lebar, permukaan, batas maksimum, beban, pemeliharaan. Jalan yang dibuat oleh perusahaan: panjang, profile, cut dan fill, jembatan
q.      Power
r.        Kepemilikan lahan, kepemilikan:negara, pribadi, tata guna lahan, harga tanah
s.       Pemerintah: suasana politik, hukum, UU pertambangan, sosial budaya
t.        Kondisi ekonomi: industri utama yang ada, kesediaan tenaga kerja, struktur pajak, ketersediaan sarana, toko, rumah sakit, sekolah, rumah, ketersediaan material, termasuk bensin, semen, gravel
u.      Lokasi pembuangan (waste dump)
v.      Aksesibilitas dari kota utama ke luar: metode transportasi, realibilitas dan transportasi yang tersedia, komunikasi






Tidak ada komentar:

Posting Komentar