Rabu, 11 Januari 2012

Batubara dunia


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Batubara adalah merupakan mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang mengendap dan selanjutnya berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun lamanya.  Oleh karena itu batubara termasuk kedalam bahan bakar fosil.
Krisis minyak yang terjadi pada tahun 1973 telah menyadarkan banyak pihak bahwa ketergantungan yang berlebihan pada suatu sumber energi primer yang dalam hal ini adalah minyak akan menyulitkan upaya pemenuhan pasokan energi yang kontinyu.  Selain itu labilnya kondisi keamanan di Timur Tengah yang merupakan produsen minyak terbesar juga sangat berpengaruh pada fluktuasi harga maupun stabilitas pasokan,keadaan inilah yang mengembalikan pamor batubara sebagai alternative sumber energi primer.  Selain itu ada beberapa faktor lain yang menyebabkan pamor batubara meningkat yaitu:
v  Cadangan batubara sangat banyak dan tersebar luas baik di Indonesia maupun di Negara-negara maju dan berkembang seperti Amerika Serikat, Rusia, China, India, Australia, Jerman, Afrika Selatan dan Ukraina.
v  Batubara dapat diperoleh dari banyak sumber di pasar dunia dengan pasokan yang stabil
v  Batubara memiliki harga yang nurah jika dibandingkan dengan minyak dan gas.
v  Batubara aman untuk ditransportasikan dan disimpan.
v  Batubara dapat ditumpuk disekitar tambang, pembangkit listrik, atau lokasi sementara.
v  Teknologi pembangkit listrik tenaga uap batubara sudah teruji dan handal.

v  Kualitas batubara tidak banyak terpengaruh oleh cuaca maupun hujan.
v  Pengaruh pemanfaatan batubara terhadap perubahan lingkungan sudah dipahami dan dipelajari secara luas, sehingga teknologi batubara bersih dapat dikembangkan dan diaplikasikan.

1.2  Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana prospek dan pemanfaatan batubara di Negara-negara maju dan berkembang, serta Negara-negara penghasil batubara di dunia.



BAB II

PERKEMBANGAN BATUBARA


2.1 Cadangan Batubara Dunia
Peranan penting batubara tidak bisa dilepaskan dari sejarah industrialisasi umat manusia. Tersedianya batubara yang melipah di negara-negara Eropa telah menghantarkan mereka memasuki era industrialisasi dan kemakmuran seperti sekarang ini.
Beberapa Negara di dunia yang memiliki cadangan batubara dapat dilihat pada table di bawah ini:

Cadangan batubara dunia pada akhir 1999 (dalam juta ton)[7]
Negara
Bituminus (termasuk antrasit)
Sub-bituminus
Lignit
TOTAL
115.891
101.021
33.082
249.994
49.088
97.472
10.450
157.010
62.200
33.700
18.600
114.500
82.396

2.000
84.396
42.550
1.840
37.700
82.090
23.000

43.000
66.000
49.520


49.520
16.274
15.946
1.933
34.153
31.000

3.000
34.000
20.300

1.860
22.160
Serbia, Montenegro
64
1.460
14.732
16.256

11.929

11.929
6.267
381

6.648
3.471
871
2.236
6.578
2.114
3.414
150
5.678
790
1.430
3.150
5.370
4.300


4.300
1.000

3.000
4.000
278
761
2.650
3.689


2.874
2.874
13
233
2.465
2.711

2.265

2.265
 Iran
1.710


1.710
1.000

500
1.500
1
35
1.421
1.457


1.268
1.268
860
300
51
1.211
31
1.150

1.181

80
1.017
1.097
 Peru
960

100
1060


812
812
773


773
200
400
60
660
300
300

600
33
206
333
572
502


502
497


497
479


479

430

430

232
100
332

40
235
275
212


212
208


208
200


200
21
169

190

183

183


172
172
150


150
88


88
78


78
70


70
66


66
40


40
6

33
39
3

33
36
22

14
36

27
7
34


25
25


24
24

22

22
14


14
10


10
4


4


3
3
2


2

2

2
2


2
2


2
1


1

1

1
1


1

1

1

 

Negara pengekspor batubara utama

Pengekspor batubara berdasarkan negara dan tahun
(dalam juta ton)
[8]
Negara
238,1
247,6
43,0
48,0
78,7
74,9
41,0
55,7
16,4
16,3
27,7
28,8
103,4
95,5
57,8
65,9
107,8
131,4
Total
713,9
764,0



2.2 Perkembangan Batubara Dunia
Negara-negara besar yang memiliki produksi batubara besar umumnya memprioritaskan pemakaian batubara untuk kebutuhan domestik. Amerika Serikat dan China, misalnya, memanfaatkan lebih dari 95 persen produksi batubara mereka untuk konsumsi domestik. India bahkan memanfaatkan seluruh batubara mereka untuk konsumsi dalam negeri. Kondisi serupa juga terjadi di Rusia, Polandia dan Afrika Selatan, dimana lebih dari 70 persen produksi digunakan untuk konsumsi dalam negeri. Sementara di Indonesia kondisinya sangat bertolak belakang, 75 persen batubara justru diarahkan untuk tujuan ekspor.
Melambungnya harga minyak mentah selama tahun lalu, membawa berkah kepada produsen batu bara. Untuk tahun ini, harga minyak mentah di pasaran dunia diprediksi masih akan tetap tinggi.
China, misalnya, yang tercatat sebagai salah satu produsen dan eksportir utama batu bara dunia sejak tahun lalu telah berubah menjadi konsumen 'murni' menyusul tingginya permintaan bahan bakar untuk pembangkit listriknya yang menggunakan bahan bakar batu bara.
Harga batu bara dunia akhirnya terpengaruh oleh kondisi di China, apalagi impor batu bara dari negara ini terus melonjak. Di samping tentunya, kendala transportasi dari negara produsen atau pengahasil batubara . Berdasarkan laporan yang dilansir Morgan Stanley, investment bank dari AS, impor batu bara China akan meningkat dua kali lipat. Selama 2004, impor batu bara dari negeri tirai bambu ini meningkat 69% menjadi 19 juta ton. Volume impor tersebut hanya 1% dari konsumsi batu bara di China sebesar 1,9 miliar ton selama 2004 atau meningkat 20% dari kebutuhan tahun sebelumnya. Keputusan China mengurangi ekspor batu bara membuat pasokan ke negara pembeli utama macam Jepang dan Korsel sedikit terganggu, sehingga Indonesia dan eksportir lainnya seperti Australia berpeluang mengisi kekosongan pasokan ke kedua negara pembeli tersebut, selain berkesempatan meningkatkan ekspor ke Filipina dan Malaysia.
Apalagi harga komoditas tersebut sejak 2002 hingga 2004 terus meningkat dari rata-rata US$28,85 per ton menjadi di atas US$50 per ton telah mendorong sebagian besar produsen melakukan ekspansi produksi.
Indonesia, menurut PricewaterhouseCoopers, dalam laporannya Mine Indonesia 2004 yang bertajuk Tinjauan atas kecenderungan industri pertambangan Indonesia, merupakan pengekspor batu bara thermal terbesar kedua setelah Australia disusul China dan Afrika Selatan. Batu bara thermal sendiri digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

2.1.1 Perkembangan  Batubara di China
Industri di negara “Tembok Besar”, Cina, berkembang sangat pesat. Lihatlah  Provinsi Guangdong, Chang Chun, Tianjin, Shanghai, dan kota Dalian serta Suzhou. Di sana terdapat industri otomotif, manufaktur, tekstil, kertas, kapal dan lain-lain. Untuk menunjang kelangsungan industri-nya, tentunya Cina membutuhkan energi yang besar. Selain menggunakan minyak bumi, gas, tenaga air, dan nuklir, juga membutuhkan emas hitam batu bara dalam jumlah besar.  
Berdasarkan catatan Yuliana Bahar, staf Konsulat Jenderal RI di Guangzhou, nilai impor batu bara Cina pada tahun lalu mencapai US$ 1,381.825 juta dan hanya mencakup 0,21% dari total nilai impornya dari dunia yang mencapai US$ 660,221.766 juta. Namun nilai dan persentasenya terhadap total impor Cina dari dunia selama tiga tahun belakangan ini terus meningkat dari 0,09% menjadi 0,16% dan terakhir naik lagi menjadi 0,21%.  
Meskipun harga batu bara rata-rata per kilo nya sedikit tidak stabil (berkisar $0.04 hingga $0.05), namun kuantitas batu bara yang diimpor Cina selama tiga tahun terakhir naik pesat. Di tahun 2003 jumlah impor batu bara Cina sebesar 11 juta Kg, di tahun 2004 naik drastis 78% atau menjadi 18.5 juta kg dan di tahun 2005 naik lagi 40,50% menjadi 26 juta kg.  
Hingga 2003, Australia merupakan pemasok batu bara utama Cina (lebih dari 50%). Namun, sejak 2004, posisinya diambil alih Vietnam, yang jumlah pasokannya pada 2005 naik hingga 65% atau mencapai 10 juta Kg atau mencakup hampir 40% dari total pasokan batu bara ke Cina. Selain batu bara Vietnam harganya jauh lebih murah atau $0.04/kg dibandingkan batu bara Australia $0.09/Kg, jarak Vietnam yang sangat dekat dengan Cina merupakan faktor kunci mengapa pasokan batu bara Vietnam menembus dominasi Australia.
Banyak faktor yang membuat negeri Cina bisa seperti itu. Satu hal yang pasti merupakan kecerdasan yang dimiliki kebanyakan rakyatnya, yang salah satunya diimplementasikan dalam hal pengolahan batubara.
Sepertinya Cina tahu, batu bara merupakan potensi dasar yang mampu membangkitkan industri lainnya. Seperti juga domino yang dijatuhkan mengenai kartu domino lain. Batu bara bisa dikatakan memiliki multiplier effect yang mengagumkan untuk pembangunan.
Hal ini terlihat sekali dengan cara Cina memanfaatkan sebagian besar batu bara yang mereka miliki, ketimbang mengekspornya keluar negeri. Seperti yang terjadi pada tahun lalu, Cina mampu memproduksi hingga 1,95 miliar ton batu bara. Ini berarti Cina berada di peringkat kedua penghasil batu bara dunia. namun Cina hanya melemparkan 86,63 juta ton batu baranya keluar negeri. Yang berarti sisanya sejumlah 95 persen, dipergunakan untuk keperluan dalam negeri.
Salah satu langkah cerdik Cina dalam memanfaatkan batu bara adalah hasil listrik. Dengan kecerdikan ini, pasokan energi listrik melimpah, dan dapat dipastikan dunia industri akan maju. Pabrik-pabrik akan bisa bekerja 24 jam. Pekerja bisa lembur dengan pasokan terang yang menyala. Kerja juga lebih maksimal.

Daerah batubara di Amerika Serikat2.2.2 Perkembangan Batubara di Amerika Serikat










Daerah batubara di Amerika Serikat
Pada tahun 1996 diestimasikan terdapat sekitar satu exagram (1 × 1015 kg atau 1 trilyun ton) total batubara yang dapat ditambang menggunakan teknologi tambang saat ini, diperkirakan setengahnya merupakan batubara keras. Nilai energi dari semua batubara dunia adalah 290 zettajoules.[4] Dengan konsumsi global saat ini adalah 15 terawatt,[5] terdapat cukup batubara untuk menyediakan energi bagi seluruh dunia untuk 600 tahun.  British Petroleum, pada Laporan Tahunan 2006, memperkirakan pada akhir 2005, terdapat 909.064 juta ton cadangan batubara dunia yang terbukti (9,236 × 1014 kg), atau cukup untuk 155 tahun (cadangan ke rasio produksi). Angka ini hanya cadangan yang diklasifikasikan terbukti, program bor eksplorasi oleh perusahaan tambang, terutama sekali daerah yang di bawah eksplorasi, terus memberikan cadangan baru. Departemen Energi Amerika Serikat memperkirakan cadangan batubara di Amerika Serikat sekitar 1.081.279 juta ton (9,81 × 1014 kg), yang setara dengan 4.786 BBOE (billion barrels of oil equivalent).[6]
Amerika Serikat bersama dengan Jepang dan Korea Selatan tergolong negara-negara yang masih sangat tergantung pada minyak mengingat konsumsi yang sangat tinggi yaitu lebih dari 40% kebutuhan energinya dipasok oleh minyak. Sebenarnya Amerika Serikat di lain sisi sudah mengembangkan berbagai sumber energi lainnya baik dari gas alam dan batu bara maupun energi nuklir

















BAB III
PEMANFAATAN BATU BARA

3.1 Batubara Sebagai Sumber Energi
Energi sangat di butuhkan dalam kehidupan manusia dimana pun dan boleh dikatakan juga energi adalah kebutuhan pokok manusia tetapi semakin lama sumber energi alam semakin menipis dan ini menjadi
Permasalahan yang tak asing lagi dan oleh sebab itu orang –orang mencari artenatif sumber energi dunia yang semakin lama semakin menipis tersebut salah satu nya dengan menggunakan batu bara seperti kita lihat pada
Cina dengan pertumbuhan industri baru yang sangat pesat mampu mengembangkan batu bara sebagai sumber energi alternatif agar ketergantungan pada minyak tidak terlalu besar. Disamping itu dengan harga batubara yang lebih murah mampu membuat industri Cina dapat bersaing. Meskipun cadangan batu bara Cina tidak sebesar Amerika Serikat (cadangan Amerika mencapai 27,1% dari seluruh cadangan batu bara di dunia sedangkan Cina memiliki 12,6%), murahnya harga energi batu bara membuat Cina begitu gencar mengintensifkan penggunaan batubara untuk kebutuhan energinya.
Cina menjadikan batu bara sebagai sumber utama energinya yang mencapai setara 956,9 juta ton minyak. Jumlah konsumsi batu bara yang terbesar di dunia tersebut mampu memasok lebih dari 69% kebutuhan energi dalam negeri Cina. Tidak heran untuk memenuhi kebutuhan batu bara yang begitu besar, produksi batu bara Cina menjadi sangat luar biasa melebihi konsumsi dalam negerinya yaitu mencapai setara 989,8 juta ton minyak. Produksi ini juga merupakan yang terbesar di dunia yang merupakan 36,2% dari total produksi batubara di seluruh dunia.

3.2 Batu Bara Sebagai Pembangkit Tenaga Listrik
Batu bara adalah pilihan menarik. Kita tahu, dengan kontribusi pembangkit Listrik tenaga diesel. Namun, ke depan porsi listrik tenaga diesel akan dikurangi. Power plant dengan gas dan batu bara akan mengambil porsi makin besar. Amerika Serikat sekaligus di Cina, sekali tiap dua pekan, satu power plant batu bara diresmikan. Konsumsi listrik penduduk Cina meningkat pesat. Tak mengherankan bila negeri raksasa ini membeli batu bara dari seantero dunia.
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) adalah salah satu contoh pemanfaatan batubara secara langsung, dimana batubara dibakar di boiler untuk menghasilkan panas yang akan digunakan untuk mengubah air menjadi uap yang selanjutnya akan digunakan untuk menggerakkan turbin uap dan memutar generator untuk mengahsilkan tenaga listrik.

3.3 Batubara sebagai Bahan Bakar
Memang, ancaman krisis BBM ini mengglobal sifatnya. Karenanya, banyak negara maju yang melakukan penelitian untuk menemukan teknologi yang bisa menghasilkan sumber energi alternatif. Salah satunya adalah mengubah batu bara (BB) menjadi BBM. Konversi inilah yang kini tengah diteliti di Indonesia, mengingat persediaan batu baranya melimpah.Biaya untuk mendapatkan minyak dari hasil pencairan BB bisa lebih murah ketimbang harga minyak bumi. Ada dua cara pencairan yakni direct dan indirect liquefaction. Pada direct liquefaction (pencairan langsung), BB dicairkan secara langsung menjadi minyak. Sedangkan pada indirect liquefaction (pencairan tidak langsung), BB diubah dulu menjadi gas melalui proses gasifikasi, baru kemudian dicairkan.Cara pencairan batubara ini juga dikembangkan di Jepang mirip dengan perengkahan hidrogen yang ada di Dumai. Dimana batu bara dicampur dengan minyak berat dan katalis dalam betuk suspensi, ditambahkan hidrogen dan panas. Akan diperoleh bahan bakar mempunyai nilai oktan tinggi, namun haya dapat ditambahkan dalam bensin sebanyak 10%. Penambahan berlebihan akan dikawatirkan terjadinya sumbatan pada saluran dalam otomotif.


3.4 Pemanfaatan Batubara dengan Metode Gasifikasi
Gas sintetik hasil gasifikasi batubara dapat diproses lebih lanjut atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, diantaranya adalah sebagai berikut:
Ø  Sebagai bahan bakar sintetik (Coal to Liquid, CTL)
Salah satu alasan mengapa pembuatan bahan bakar sintetik melalui gasifikasi batubara terus berlangsung sampai sekarang adalah karena cadangan batubara dunia yang begitu melimpah. Pada pembuatan BBM sintetik, batubara digasifikasi terlebih dulu untuk menghasilkan gas sintetik yang komposisi utamanya terdiri dari hidrogen (H2) dan karbon monoksida (CO), kemudian dilanjutkan dengan proses Fischer-Tropsch (FT) untuk menghasilkan hidrokarbon ringan (paraffin). Hidrokarbon tersebut kemudian diproses lebih lanjut untuk menghasilkan bensin dan minyak diesel.
Ø  Dalam industri kimia (coal to chemical). Gas sintetik hasil gasifikasi batubara juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri kimia, diantaranya untuk pembuatan ammonia, pupuk, metanol, dimethil eter, olefin, paraffin dan lain-lain.








BAB IV

PROSPEK BATU BARA


Prospek-prospek batubara pada masa yang akan datang adalah sebagai berikut:
1.      Prospek positif dari batubara adalah batubara akan dimanfaatkan secara optimal dimasa mendatang.
Dengan harga batubara yang relatif lebih murah dibandingkan dengan bahan bakar fosil lainnya, kemudian karena ketersediaan batubara yang melimpah serta penyebaran cadangan batubara yang relatif merata di seluruh dunia, maka batubara adalah sumber energi primer yang menjanjikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa batubara memiliki kekuatan yang besar untuk menarik roda perekonomian suatu bangsa.
2.      Prospek Batu Bara Cair Dunia Di Masa Depan
Melihat kondisi kelangkaan energi minyak bumi dimasa depan, China melakukan inisiatif langkah-langkah konkrit melakukan penelitian dan pengembangan teknologi pencairan batu bara. Sementara itu NEDO, sebagai bagian dari program kerjasama Internasional telah melakukan instalasi peralatan pencairan batubara di China pada 1982 sebagai bagian dari uji coba pencairan batu bara China, termasuk melakukan eksplorasi katalis untuk proses pencairan batubara serta pengembangan kemampuan sumber daya manusia. Sejak tahun 1987, pemerintah China telah menawarkan NEDO untuk melakukan uji kelayakan lokasi pabrik pencairan batubara di Provinsi Heilongjiang dengan memanfaatkan batubara Yilan. Sebaliknya, dengan mempertimbangkan sebagai negara importir minyak bumi dimasa depan, pada tahun 1992 pemerintah Indonesia telah meminta bantuan kerjasama Internasional kepada NEDO untuk melakukan penelitian dan pengembangan brown coal. Inisiatif tersebut ditindaklanjuti tahun 1994 dengan menandatangani memorandum kerjasama antara NEDO bersama dengan BPPT (Badan Pengkajian Penerapan Teknologi) untuk penelitian dan pengembangan teknologi pencairan brown coal di Indonesia sebagai persiapan untuk komersialisasi pabrik pencairan batubara cair.
3.      Prospek negatif dari batubara adalah dapat merusak lingkungan.
Produksi batubara dengan metode penambangan terbuka menimbulkan kerusakan lingkungan, diperkirakan telah terjadi kerusakan pada area seluas 70.000 ha. Sementara itu, penambangan batubara juga menimbulkan polusi air pada sungai-sungai di dekat lokasi pertambangan yang menyebabkan menurunnya kualitas air bersih bagi kepentingan penduduk di sekitarnya. Untuk mencegah kerusakan lingkungan, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999, suatu peraturan yang sangat ketat dan bahkan melampaui peraturan yang dibuat Pemerintah Canada dan Amerika Serikat. Pada kenyataannya, peraturan “yang ketat” ini tidak berjalan karena adanya hambatan teknologi dan sumber daya manusia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar